Tugas ISD

C.Individu, Keluarga dan Masyarakat

Naluri manusia untuk selalu hidup dan berhubungan dengan orang lain disebut “gregariousness”

dan oleh karena itu manusia disebut mahluk sosial. Dengan demikian manusia dikenal sebagai

mahluk yang berbudaya karena berfungsi sebagai pembentuk kebudayaan, sekaligus apat

berperan karena didorong oleh hasrat atau keinginan yang ada dalam diri manusia yaitu :

1. Menyatu dengan manusia lain yang berbeda disekelilingnya

2. Menyatu dengan suasana dalam sekelilingnya

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU

Kata individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi,

melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan. Dalam

perkembangannya setiap individu mengalami dan dibebankan berbagai peranan, yang berasal

dari kondisi kebersamaan hidup dengan sesama manusia. Artinya individu tersebut telah dapat

menemukan kepribadiannya aatau dengan kata lain proses aktualisasi dirinya sebagai bagian dari

lingkungannya telah terbentuk.

Pertumbuhan Individu

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan:

1. Pendirian Nativistik. Menurut para ahli dari golongan ini berpendapat bahwa

pertumbuhan itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir

2. Pendirian Empiristik dan environmentalistik. Pendirian ini berlawanan dengan pendapat

nativistik, mereka menganggap bahwa pertumbuhan individu semata-nmata tergantung

pada lingkungan sedang dasar tidak berperan sama sekali.

3. Pendirian konvergensi dan interaksionisme. Aliran ini berpendapat bahwa interaksi antara

dasar dan lingkungan dapat menentukan pertumbuhan individu.

KELUARGA DAN FUNGSINYA DIDALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Keluarga merupakan gejala universal yang terdapat dimana-mana di dunia ini. Sebagai gejala

yang universal, keluarga mempunyai 4 karakteristik yang memberi kejelasan tentang konsep

keluarga .

1. Keluarga terdiri dari orang-orang yang bersatu karena ikatan perkawinan, darah atau

adopsi. Yang mengiakat suami dan istri adalah perkawinan, yang mempersatukan orang

tua dan anak-anak adalah hubungan darah (umumnya) dan kadang-karang adopsi.

2. para anggota suatu keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah dan mereka

membentuk suatu rumah tangga (household), kadang-kadang satu rumah tangga itu

hanya terdiri dari suami istri tanpa anak-anak, atau dengan satu atau dua anak saja

3. Keluarga itu merupakan satu kesatuan orang-orang yang berinteraksi dan saling

berkomunikasi, yang memainkan peran suami dan istri, bapak dan ibu, anak laki-laki dan

anak perempuan

4. Keluarga itu mempertahankan suatu kebudayaan bersama yang sebagian besar berasal

dari kebudayaan umum yang lebih luas.

Koentjaraningrat membedakan 3 macam keluarga luas berdasarkan bentuknya :

1. keluarga luas utrolokal, berdasarkan adapt utrolokal, terdiri dari keluarga inti senior

dengan keluarga-keluarga batih/inti anak laki-laki maupun anak perempuan

2. keluarga luas viriolokal, berdasakan adapt viriolokal, terdiri dari satu keluarga inti senior

dengan keluarga-keluarga inti dari anak-anak lelaki

3. Keluarga luas uxorilokal, berdasarkan adapt uxorilokal, terdiri dari satu keluarga inti

senior dengan keluarga-keuarga batih/inti anak-anak perempuan

Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakn didalam atau oleh

keluarga itu. Macam-macam fungsi keluarga adalah

1. Fungsi biologis

2. Fungsi Pemeliharaan

3. Fungsi Ekonomi

4. Fungsi Keagamaan

5. Fungsi Sosial

MASYARAKAT SUATU UNSUR DARI KEHIDUPAN MANUSIA

Dalam perkembangan dan pertumbuhannya masyarakat dapat digolongkan menjadi :

1. Masyarakat sederhana. Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitive) pola

pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja

berdasarkan jenis kelamin, nampaknya berpangkal tolak dari latar belakang adanya

kelemahan dan kemampuan fisik antara seorang wanita dan pria dalam menghadapi

tantangan-tantangan alam yagn buas saat itu.

2. Masyarakat Maju. Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelomok sosial, atau lebih

dikenal dengan sebuatan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan

berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai.

D.Pemuda dan Sosialisasi

Pemuda Indonesia

Pemuda dalam pengertian adalah manusia-manusia muda, akan tetapi di Indonesia ini

sehubungan dengan adanya program pembinaan generasi muda pengertian pemuda diperinci

dan tersurat dengan pasti. Ditinjau dari kelompok umur, maka pemuda Indonesia adalah sebagai

berikut :

Usia 0-18 tahun adalah merupakan sumber daya manusia muda, 16 – 21 tahun keatas dipandang

telah memiliki kematangan pribadi dan 18(21) tahun adalah usia yang telah diperbolehkan untuk

menjadi pegawai baik pemerintah maupun swasta.

Dilihat dari segi ideologis politis, generasi muda adalah mereka yang berusia 18 – 30 – 40 tahun,

karena merupakan calon pengganti generasi terdahulu

Sosialisasi Pemuda

Proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial

yang bersangkutan. Thomas Ford Hoult, menyebutkan bahwa proses sosialisasi adalah

proses belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standar yang terdapat dalam

kebudayaan masyarakatnya. Menurut R.S. Lazarus, proses sosialisasi adalah proses

akomodasi, dengan mana individu menghambat atau mengubah impuls-impuls sesuai dengan

tekanan lingkungan, dan mengembangkan pola-pola nilai dan tingkah laku-tingkah laku yang

baru yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat

INTERNALISASI, BELAJAR DAN SPESIALISASI

istilah internasilasasi lebih ditekankan pada norma-nroma individu yang menginternasilasikan

norma-norma tersebut. Istilah belajar ditekankan pada perubahan tingkah laku, yang semula

tidak dimiliki sekarang telah dimiliki oleh seorang individu. istilah spesialisasi ditekankan pada

kekhususan yang telah dimiliki oleh seorang individu, kekhususan timbul melalui proses yang

agak panjang dan lama.

STUDY KASUS

.       Masalah

Perceraian memiliki dampak terhadap mantan pasangan suami istri dan anak. Akan tetapi dalam uraian ini akan

dibahas dampak perceraian yang akan dialami oleh anak. Menurut Leslie (1967), reaksi anak terhadap perceraian

orang tua sangat tergantung pada penilaian mereka sebelumnya terhadap perkawinan orangtua mereka serta

rasa aman di dalam keluarga.  Leslie (1967) mengemukakan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai sering

hidup menderita, khususnya dalam hal keuangan serta secara emosional kehilangan rasa aman di dalam keluarga.

Oleh karena itu tidak jarang mereka berbohong dengan mengatakan bahwa orangtua mereka tidak bercerai atau

bahkan menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang perceraian orang tua mereka.

Dampak Psikologis Anak Akibat Perceraian Orang Tua:

Banyak sekali dampak negatif perceraian yang bisa muncul pada anak. Seperti marah pada diri sendiri, marah

pada lingkungan, jadi pembangkang. Bisa jadi, anak akan merasa bersalahdan menganggap dirinyalah biang keladi

atau penyebab perceraian orangtuanya. Dampak lain adalah anak jadi apatis, menarik diri, atau sebaliknya,

mungkin kelihatan tidak terpengaruh oleh perceraian orangtuanya. Anak juga bisa jadi tidak pede dan takut

menjalin kedekatan dengan lawan jenis. Kedepannya, setelah dewasa, anak bisa jadi dendam pada orangtuanya,

terlibat drugs dan alkohol, dan yang ekstrem, muncul pikiran untuk bunuh diri. Perasaan marah dan kecewa pada

orangtua merupakan sesuatu yang wajar, Ini merupakan proses dari apa yang sesungguhnya ada di hati anak.

a.        Kesimpulan
Sejumlah besar anak yang tumbuh dalam keluarga yang bercerai memiliki perbedaan tersendiri dengan anak – anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak bercerai. Kebanyakan anak anak pada mulanya mengalami stress berat ketika orangtua mereka bercerai dan mereka beresiko mengembangakan masalah masalah perilaku. Tetapi perceraian dapat juga melepaskan anak anak dari konflik perkawinan. Banyak anak yang mengalami perceraian orangtua menjadi individu yang berkompeten.
 
b.        Saran

Dalam kehidupan berumah tangga, pasti selalu diwarnai dengan keributan dan pertengkaran antara suami istri, namun sebesar – besarnya suatu masalah pasti akan menemukan titik terang dalam menyelesaikan masalahnya. Perceraian bukanlah satu – satunya jalan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dalam keluarga. Mungkin pemikiran orang tua, bercerai adalah jalan yang terbaik tetapi tidak buat anak mereka, karena perceraian berarti terputusnya keluarga karena salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka berhenti melakukan kewajibannya sebagai suami istri. Sebaiknya sebelum menjalani perceraian, hendaknya benar – benar memikirkan psikologi anak yang akan mengalami perubahan secara dramatis dalam kehidupannya. Menjauh untuk sesaat bagi suami istri lebih baik tanpa mengucapkan kata cerai dari salah satu pihak, dengan menjauh sesaat dengan memikirkan permasalahan yang terjadi dan mencari solusi yang tepat merupakan langkah yang bijak yang dapat dilakukan. Karena jika perceraian terjadi, maka kedua orang tua harus siap menerima konsekuensi yang akan terjadi terhadap anak mereka.

http://animenekoi.blogspot.com/2012/07/dampak-perceraian-orang-tua-terhadap.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s